Dalam pandangan Marxisme, perjuangan kelas dan kesetaraan gender bukanlah dua agenda terpisah. Justru keduanya terkait erat melalui dialektika kelas dan gender. Feminisme Marxis menegaskan bahwa penindasan terhadap perempuan tidak akan pernah terselesaikan jika hanya didekati secara parsial. Yang dibutuhkan adalah analisis yang menyatukan sistem kapitalis dengan sistem seks dan gender yang patriarkis. Oleh karena itu, revolusi yang diidamkan bukan hanya mengakhiri relasi kelas, tetapi juga menghapus eksploitasi gender dan seksualitas yang dilakukan kapital demi meraih keuntungan sebesar-besarnya dari kerja lebih (surplus labor).
Salah satu bukti paling nyata dari keterkaitan ini adalah eksploitasi tenaga kerja perempuan, baik yang dibayar maupun tidak dibayar. Teori Marxis tentang mode produksi selama ini sering mengabaikan kenyataan ekonomi kehidupan perempuan: kerja domestik tak berupah seperti membersihkan rumah, memasak, dan merawat lansia. Padahal, laki-laki memiliki kepentingan material agar pekerjaan gratis ini terus berlangsung. Kapitalisme kemudian melompat masuk, menyerap kerja tak berbayar tersebut sebagai komponen tersembunyi yang krusial untuk mempertahankan produksi dan meningkatkan keuntungan. Dengan kata lain, kapitalisme dibebaskan dari biaya nyata untuk mereproduksi dan merawat tenaga kerja harian karena semua itu telah ditanggung perempuan di ranah domestik.
Kolaborasi antara kapitalisme dan patriarki inilah yang menciptakan sistem eksploitasi multidimensional. Bukan sekadar dua sistem yang berjalan paralel, melainkan saling membentuk (mutual shaping). Karenanya, metode materialisme dialektis Marxis yang biasa dipakai untuk menganalisis kekuasaan kelas, harus diadaptasi untuk memahami dan melawan dominasi laki-laki secara sistemik. Sayangnya, perjuangan kelas sosialis sering terjebak pada isu ekonomi sempit seperti upah, lalu mengabaikan politik tubuh perempuan: kekerasan, dominasi, dan kontrol atas tubuh. Padahal, keduanya tak terpisahkan.
Contoh paling gamblang datang dari gerakan feminis di Turki. Para aktivis di sana menganalisis lonjakan angka pembunuhan perempuan mencapai 1.400 persen dalam sembilan tahun, sebagai efek langsung dari kolaborasi kapitalisme dan patriarki. Ketika perubahan ekonomi memberi sebagian perempuan kemandirian finansial, mereka berani menolak kepatuhan buta pada laki-laki. Namun di saat sama, pengangguran akibat kapitalisme meruntuhkan status hierarkis sebagian laki-laki. Hilangnya dominasi ini memicu kebencian dan berujung pada kekerasan fatal. Maka, bagi feminis Turki, masalah tenaga kerja perempuan tidak boleh dipisahkan dari politik tubuh.
Apa yang terjadi jika gerakan feminis hanya berfokus pada anti-kapitalisme? Kelemahannya jelas: ia cenderung mengabaikan isu-isu radikal yang secara spesifik menimpa perempuan sebagai ibu, istri, objek seksual, hingga korban kekerasan fisik laki-laki. Isu-isu ini seolah “ditinggalkan di depan pintu” begitu para feminis memasuki ruang gerakan sosialis. Akibatnya, dominasi laki-laki dan kekuasaan patriarkis tak pernah benar-benar ditantang, bahkan di dalam organisasi pergerakan itu sendiri. Sebaliknya, jika feminisme hanya berfokus pada politik tubuh tanpa melawan kapitalisme neoliberal global, ia akan gagal melihat akar sistemik dari penindasan yang dialami perempuan.
Maka, radikalisme sebuah gerakan feminis tidak bisa diukur semata dari seberapa anti-kapitalis gerakan tersebut, tetapi juga dari seberapa anti-patriarki perlawanannya. Feminisme Marxis mengajarkan bahwa perlawanan kelas belum tuntas jika kaum sosialis tidak mengambil alih dan memperkaya analisis mereka dengan aktivisme anti-patriarki. Ilusi bahwa kesetaraan gender bisa dicapai di dalam sistem kapitalisme yang ada saat ini harus ditinggalkan. Yang diperlukan adalah revolusi penuh: menghapuskan penindasan kelas sekaligus mencabut eksploitasi gender dan seksualitas hingga ke akar-akarnya. Dengan kata lain, gerakan feminis harus menjadi anti-patriarki sekaligus anti-kapitalis, karena kedua sistem itulah yang berkolaborasi menghancurkan kehidupan dan tubuh perempuan.
